Jumat, 12 Mei 2017

paper Bahasa Daerah adalah Salah Satu Kekayaan Bangsa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Pemersatu Bangsa



Bahasa Daerah adalah Salah Satu Kekayaan Bangsa
Bahasa Indonesia adalah Bahasa Pemersatu Bangsa

I.                   Pendahuluan
Bahasa adalah warisan kebudayaan suatu bangsa. Hal tersebut sangatlah masuk akal karena kita dapat  belajar kebudayaan melalui bahasa. Bahasa di Indonesia adalah warisan kebudayaan yang tidak berwujud materi. Sudah sepantasnya, kita sebagai bangsa indonesia harus selalu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bangsa Indonesia sangatlah terkenal dengan “hospitality” atau keramah tamahanya. Hal ini adalah suatu ciri khas bangsa yang patut dibanggakan. Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama untuk itu di Indonesia sendiri memiliki banyak sekali bahasa daerah. Tiap daerah memiliki bahasanya sendiri yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Sebagian memandang keanekaragaman budaya sebagai sesuatu hal yang positif karena bertujuan untuk berbagi kekayaan yang dikandung dalam tiap budaya. Oleh karenanya, menyatukan kita semua melalui berbagai proses pertukaran dan dialog. Bahasa daerah merupakan warisan leluhur yang harus dijaga. Masalah  yang kita hadapi adalah mulai lunturnya rasa cinta terhadap bahasa, saat ini pemuda sebagai pnerus bangsa mulai meninggalkan bahasa daerah dan mengganggap bahasa daerah bahasa yang kolot, dan kuno. Negara kita memiliki idieologi pancasila. Telah diketahui bersama bahwa Pancasil merupakan “Common Denominator” payung bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk menghadapi masalah ini sudah seharusnya kita kembali pada pandangan pancasila  sebagai pondasi Negara Indonesia. Bagaimana bersikap terhadap keragamaan bahasa di Indonesia harus sesuai dengan pandangan pancasila, agar tidak luntur dalam menghadapi perkembangan zaman, atau malah justru bahasa daerah yang seharusnya menjadi warisan akan hilang dan tenggelam karena globlalisasi. Dalam tulisan ini penulis ingin menyampaikan bagaimana sehausnya menyikapi bahasa yang beraneka ragam di Indonesia dengan  pandangan pancasila. Serta bagaimana kita dapat menyikapi bahasa daerah yang eksistensinya mulai menurun.

II.                Pembahasan
Bahasa adalah jadi diri bangsa, bahasa merupakan media untuk berkomunikasi dengan sesama, setiap Negara memiliki bahasa ibu yang menjadi pengantar  disetiap sendi kehidupan. Bahasa ibu di setiap Negara akan dijunjung tinggi dan dihargai karena bahasa merupakan harga diri bangsa tersebut.
   Indonesia merupakan Negara kesatuan atau Negara yang majemuk, Indonesia terdiri dari beragam suku, adat, ras, dan sudah dapat dipastikan Indonesia memiliki ragam buadaya yang tak terhitung lagi banyaknya. Dalam satu daerah bisa terdapat lebih dari satu bahasa, lengkap dengan dialek maupun idiolek  yang khas dari masing-masing bahasa. Keragaman bahasa, dialek dan idiolek  jelas mendapat pengaruh dari budaya yang ada dimasyarakat itu sendiri. Beragamnya keanekaragaman bahasa juga harus dijaga erat. Sekarang ini pemuda sebagai penurus bangsa justru merasa malu dan merasa kuno terhadap bahasa daerahnya sendiri. Hal ini sangat ironis anak-anak dari kota saat diajak berbicara menggunakan bahasa daerah tidak paham artinya, bahkan banyak yang mengatakan bahwa bahasa daerah adalah mata pelajaran yang paling tidak disukai karena tidak paham. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat bahasa daerah adalah warisan dari nenek moyang. Menyikapi hal ini kita harus bercermin pada idiologi bangsa kita yaitu pancasila. Sebagai idiologi bangsa pancasila merupakan tujuan hidup bangsa ini dan menjadi dasar bangsa ini serta menjadi cita-cita luhur bangsa.
   Selain itu eksistensi bahasa Indonesia semakin hari semakin melorot karena pemuda bahkan dari semua golongan lebih senang menggunakan istilah-istilah asing dibandingkan dengan istilah yang ada dalam bahasa Indonesia itu sendiri. Contohnya adalah penggunaan kata : upload, download, mouse, gadget, online dan offline yang memiliki padanan kata unggah, unduh,tetikus, gawai, daring dan luring.
Jika dikaitkan dengan pancasila dalam pancasila terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman dalam menyikapi masalah tersebut. Diantaranya adalah sila kedua, dan ketigaYaitu : Kemanusiaan yang adil dan beradab, serta  persatuan Indonesia.
1.Dikaitkan dengan sila kedua
Kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam sila ini dijelaskan bahwa manusia Indonesia harus  beradab salah satunya adalah dengan bangga menggunakan bahasa daerah, jika bahasa asing dijunjung tinggi dan menjadi bahasa tren mengapa bahasa daerah dianggap kuno, sebagai generasi muda sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan bahasa daerah kita sendiri agar tetap menjadi warisan luhur yang tetap terjaga tidak luntur karena perkembanga zaman.

2.Dikaitkan dengan sila ketiga
Persatuan Indonesia, jangan sampai bahasa yang berbeda-beda justru akan membuat kita pecah,karena perbedaan itulah kita dapat satu sama lain belajar dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar atau pemersatu. Jika tiap daerah bersatu melestarikan bahasanya maka bahasa-bahasa di Indonesia akan utuh dan tidak akan luntur seiring perkembangan zaman.
Dari berbagai bahasa yang ada kemudian bangsa Indonesia disatukan dengan bahasa pemersatu, bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Bangsa Indonesia harus bangga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Dengan segala aspek yang ada, seperti pariwisata, budaya dapat digunakan sebagai media untuk menduniakan bahasa Indonesia dan tetap menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai warisan leluhur dan kekayaan bangsa Indonesia.

           
III.             Penutup
Pansila meruapakan dasar Negara Indonesia yang mampu bertahan dalam segala kondisi dan mampu mengikuti perkembangan zaman meskipun didalamnya terdapat nilai-nilai luhur. Sebagai payung bersama pancasila merupakan kiblat bangsa Indonesia untuk menentukan kemana bangsa ini akan dibawa. Begitupun dalam memandang tentang keragaman bahasa di Indonesia. Bahasa local yang berbeda-beda harus tetap dijaga eksistensinya agar tidak kalah dengan bahasa asing. Demikian dengan bahasa Indonesia yang saat ini dicampur padukan dengan bahasa asing padahal bahasa Indonesia sendiri memiliki padanan kata dari kata yang diucapkan dalam bahasa asing. Sudah semestinya kita menjaga bahasa daerah karena bahasa daerah merupakan warisan nenek moyang. Dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.













Daftar Pustaka
 diakses pada tanggal 13 april 2017.
diakses pada tanggal 14 april 2017.
diakses tanggal 14  april 2017



analisis kritik sosial, politik dan budaya pada cerpen kang dasrip



Analisis Cerpen Kang Dasrip
Karya emha ainun najib
Dalam cerpen “Kang Dasrip” ini tterdapat beberapa kritik yaitu kritik sosial, kritik budaya dan kritik politik. Kritik sosial tergambar jelas dimana kritik sosial digambar tentang bahwa kehidupan bermasyarakat tidak harus berjalan lurus dan tentram saja. Begitupun yang dialami kang dasrip. Bagaimana ia tergejolak dengan tetangganya, hal ini dapat kita jumpai dalam paragraf (10) dimana ia harus menghadapi masalah yang cukup kompleks dalam hidupnya dengan masyarakat. Kemudian dalam hidup bermasyarakat memang ada istilah “memberi dan menerima” ketika kita hidup dalam masyarakat tentunya harus saling membantu dan dibantu karena kita tidak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini sama saja dengan kisah kang dasrip yang dulu mbuwuhi tetangga tengganya kemudian sewaktu kag dasrip punya kerja maka dia yang diganti dibuwuhi, meskipun dalam hal ini ada konflik yang kontroversial dimana kang dasrip tidak terima karena apa yang dulu berikan terhadap tetangganya kemudian tidak sesuai dengan apa yang diberikan tetangganya tersebut kepada kang dasrip dalam paragraf (1 dan 4). Hal ini hanya dapat kita jumpai dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Dalam kejadian ini sendiri dapat kita ambil hikmah bahwa jika kita memberi sesuatu kepada sanak saudara hendaknya jangan pernah kita berharap imbalan karena saat semua tidak berjalan seperti yang kita harapkan maka kita sendiri yang akan kecewa.
 Kemudian dalam kehidupan sosial tentunya ada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Seperti norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma adat-istiadat. Seperti yang digambarkan dalam cerpen kang dasrip ini. Dimana kang dasrip secara norma kesopanan sangat tidak sopan karena ia menghujat apa yang diberikan tetangganya kepadanya. Bahkan ia menegaskan untuk meminta imbal balik atau kesebandingan dengan apa yang mereka dapatkan dari kang dasrip. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata maka hal ini sangat mencoreng nama orang tersebut dan membuat namanya sendiri menjadi kotor bahkan dihujat oleh masyarakat hal ini dapat kita temukan pada paragraf (7 dan 8). Faktor ekonomi tidak lepas dari bahasan kritik sosial dalam cerpen ini digambar bahwa saat kang dasrip akan menggelar hajat khitanan anaknya maka ia telah menyiapkan segala sesuatu dengan jelas dan perhitungan matang dia telah memperkirakan pengeluaran yang ia butuhkan dan yang akan ia keuntungan dengan sangat rinci, hal ini sangat sesuai dalam kehidupan nyata dimana seseorang yang akan menggelar hajat maka ia akan mempertimbangkan apa saja yang akan diperluknnya. Dalam cerpen kang dasrip hal ini dikemas dengan sesuatu yang berbeda dimana hal yang telah diperhitungkan melenceng jauh dari dari yang diperkirakan. Dalam paragraf (2 dan 3).
Selanjutnya adalah kritik budaya dalam cerpen kang dasrip juga menonjolkan kritik budaya yang sangat erat. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang masyarakat jawa. Hal ini dibuktikn dengan beberapa kosa kotanya yang menggunakan kata dalam bahasa jawa seperti gedeg, buwuhi, dan misuh-misuh. Dalam cerpen ini juga dilukiskan tentang budaya orang jawa jika salah satu anggota keluarganya akan dikhitan maka akan mengadakan hajatan atau semacam syukuran dan selamatan. Dalam acara tersebut ada tradisi-tradisi yang melekat pada masyarakat jawa seperti membuat tarub di depan rumah da nada tradisi untuk mengundang kesenian lokal yaitu tayub dan kethoprak meskipun dalam cerpen ini meninggalkan kesenian itu karena alasan biaya. Dalam paragraf (2).
Yang terakhir adalah kritik politik dalam cerpen kang dasrip juga mengandung kritik politik. Dalam cerpen ini digambarkan tentang pihak pabrik yang semena-mena memberikan harga sewa tebu terhadap masyarakat bhakan dijelaskan bahwa embel-embelnya saja tebu milik rakyat namun kenyataanya tebu-tebu tersebut hanya milik pabrik dan pemerintah. Hal ini sangat sesuai dengan kehidupan nyata saat ini jajaran poilitik berkedok bahwa pemerintah bekerja untuk rakyat namun pada kenyataanya rakyat hanya menikmati segala sesuatu yang merupakan hak rakyat dipersulit dan diambil keuntungan untuk pemerintah dan pabrik dalam cerpen ini digambarkan bahwa pabrik mengambil keuntungan sebesar-besarnya dan pemerintah mendukung hal tersebut dengan kebijakan-kebijakan yang ada. Hal ini sesuai dengan potret kehidupan nyata. Terdapat dalam (paragraph 5). Dalam cerpen tersebut juga dilukiskan bagaimana ketidak netralan dari lurah desa. Dalam cerpen tersebut dilukiskan bahwa lurah kang dasrip ada main dengan pihak pabrik hal ini sesuai dengan keadaan politik yang ada dalam masyarakat. Dimana pemerintahan di Indonesia sangat bobrok. Tidak hanya pemerintahan di pusat. Pemerintahan ditingkat desa yang merupakan ujung tombak pembangunan juga tidak bersih. Kepala desa tidak membantu warganya dengan baik malah justru memihak pabrik untuk keuntungan semata. Bahkan dalam kehidupan nyata pembangunan yang ada tidak sesuai anggaran. Anggaran yang dibuat sangat maksimal namun pada kenyataannya hanya sedikit yang direalisasikan. (dalam paragraf 6).

contoh teks persuasi pedagang kaki lima unnes


 Jenis Karangan: Persuasi
 Topik : Pedagang Kaki Lima Unnes

Semua Pihak Harus Menjaga Lingkungan Kampus Termasuk Pedagang Kaki Lima

Pedagang kaki lima di area kampus merupakan sosok yang sangat dekat dengan mahasiswa. Pedagang kaki lima memang selalu menjadi solusi bagi mahasiswa. Bagaimana tidak? Pedagang kaki lima selalu menyediakan kebutuhan dengan harga sesuai kantung mahasiswa . sekarang ini berprofesi sebagai pedagang kaki lima menjadi pilihan bagi masyarakat sekitar kampus. Dengan berbagai alasan menjadi pedagang kaki lima memang pekerjaan yang cukup menjanjikan. Namun, adanya pedagang kaki lima yang menjamur memang membawa beberapa dampak. Tak hanya dampak positif tetapi juga dampak negative.
Sebagai masyarakat kampus sudah selayaknya kita menjaga lingkungan kampus. Baik dari pedagang maupun mahasiswa. Kehadiran pedagang kaki lima yang menjamur memang dapat dibantah lagi bahwa kehadiaran mereka membawa banyak dampak. Baik untuk lingungan maupun masyarakat. Apalagi manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan semesta alam sekitar tentunya setiap hubungan selalu diiringi dampak positif maupun negatif yang selalu berdampingan dan tidak bisa dipisahkan. Demikian pula yang terjadi pada fenoma pedagang kaki lima yang sangat menjamur sekarang ini.
Berbagai alasan memang menjadi dasar warga sekitar kampus menjadi pedagang kaki lima. Salah satunya adalah omzet yang cukup menjanjikan. Cantohnya adalah pasangan suami istri yang menjadi pedagang kaki lima di area lapangan Banaran, pak Agus berusia 30tahun
Tugas mata kuliah :
Dasar-dasar keterampilan berbahasa produktif
Dosen pengampu :
Santi Pratiwi, S.Pd, M.Pd
Oleh :
Asti wahyuningtyas
2101416011
Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia rombel 1
bersama istri yang berusia 25tahun. Beliau memanfaatkan ketela yang melimpah di rumahnya, kemudian dengan kreativitas beliau menyulap ketela tersebut menjadi tela-tela. Pak Agus menyatakan bahwa setiap harinya beliau mendapat laba kotor sebesar Rp 300.000,00. Itu menunjukkan bahwa berdagang kaki lima sangat menjanjikan. Jika dikalikan tiga puluh kali atau satu bulan, maka pak Agus mendapatkan omzet kotor sebersar Rp 9.000.000,00. Cukup fantastis bukan? Dari sini kita dapat berpikir adanya suatu kampus disuatu daerah sangat berpeluang menciptakan lapangan pekerjaan baru seperti pedagang kaki lima.
Dengan demikian ekonomi masyarakat di sekitar kampus juga meningkat drastis. Ditambah lagi menjadi pedagang kaki lima hanya diperlukan kreatifitas pada satu bidang atau apa saja kemampuan dan kelebihan yang dimiliki warga kampus. Misalnya saja pedagang tela-tela hanya berawal dari ketela yang tidak dimanfaatkan dengan maksimal kemudian disulap dengan mudah menjadi tela-tela yang prosesnya juga mudah cukup direbus, goring dan bumbui. Contoh lagi adalah pedagang kaki lima yang menjualkan peralatan berkendara seperti masker, kaos kaki dan sarung tangan mereka hanya mengambil barang dari distributor saja kemudian mereka menggelar barang dagangannya tersebut di lapak-lapak. Dari sini kita dapat melihat segala sesuatu memang diawali dari niat dalam hati. Jika warga memiliki niat yang kokoh fenoma pedagang kaki lima sangat membantu dalam pertumbuhan ekonomi warga di sekitar kampus.
Namun dibalik dampak yang sangat positif tersebut pedagang kaki lima juga memiliki dampak yang negatif. Sebenarnya tidak negatif, hanya saja eksekusi yang kurang tepat dan “pembiaran-pembiaran” dalam berbagai hal. Memang pada faktanya penyakit “pembiaran-pembiaran” sangat sulit disembuhkan. Di lapangan Banaran sendiri yang menjadi tempat paling favorit bagi pedagang kaki lima menjajakan dagangannya terlihat banyak masalah yang berawal dari “pembiaran-pembiaran”. Contohnya adalah hal yang memang sudah menjadi isu lingkungan nasional yaitu sampah. Sampah di area lapangan banaran berserakan memang belum tampak tumpukan yang menggunung, tetapi jika ini terus dibiarkan tidak menutup kemungkinan lima sampai sepuluh tahun lagi akan banyak tumpukan sampah di area lapangan Banaran. Hal ini juga tidak memungkinkan membuang sampah menyebabkan masalah besar dikemudian hari yaitu banjir. Di lapangan Banaran sendiri terlihat sampah berserakan di dalam saluran air, meskipun tidak banyak jelas itu bukan hal baik, jika terus dibiarkan dapat menyumbat air apalagi saat musim hujan. Jika dilihat dalam jangka waktu dekat sampah tersebut tentu tidak sedap dilihat mata. Bukankah jika lingkungan tempat berjualan kotor akan membuat konsumen juga enggan membeli kebutuhan disana dan membawa dampak bagi pedagang sendiri.
Masalah lain yang terjadi adalah kemacetan daerah lapangan Banaran tidak memiliki lahan parkir sehingga membuat konsumen yang berbelanja memarkirkan kendaraannya sembarangan di tepi jalanan. Hal ini juga dibiarkan tanpa ada solusi. Sedangkan kita semua tahu bahwa jalan depan lapangan Banaran merupakan jalan utama menuju kampus dan akses warga juga yang selalu dilewati untuk beraktivitas.
Dari hal diatas kita dapat mengetahui bahwa kehadiran fenomena pedagang kaki lima membawa banyak dampak positif dan dampak negatif. Sebagai warga kampus juga warga lingkungan kampus sudah sepantasnya semu pihak menumbuhkan rasa memiliki. Sehingga akan timbul rasa ingin menjaga kebersihan lingkungan dan ketertiban umum. Sudah menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua pihak dan semua lapisan masyarakat harus turut menjaga ketertiban umum. Setiap individu menjaga lingkungan sesuai dengan peranny masing-masing.

contoh teks argumentasi pedagang kaki lima di unnes


 Jenis Karangan: Argumentasi
 Topik : Pedagang Kaki Lima Unnes

Pengaruh Pedagang Kaki Lima di Area Kampus Unnes

Pedagang kaki lima di area kampus bisa dikatakan sudah sangat menjamur. Mulai dari
penjual makanan siap saji, penjual kaki lima yang menjual sembako hingga pedagang kaki lima
yang menjual peralatan berkendara seperti masker, sarung tangan dan kaus kakipun ada.
Masyarakat yang tinggal di area kampus memang sangat memanfaatkan peluang usaha ini.
Selain dapat dengan mudah dijalankan usaha berdagang kaki lima cukup menguntungkan.
Ditambah lagi para pedagang kaki lima di area kampus tentunya berasal dari tersebut sehingga
memudahkan mereka dari segi akomodasi. Jika kurang sesuatu atau membutuhkan sesuatu para
pedagang kaki lima tinggal mengambil barang yang dibutuhkan di rumahnya yang tentunya tidak
jauh dari tempat berdagangnya itu sendiri.
Di area kampus Unnes sendiri yang tempat menjadi favorit para pedagang kaki lima
untuk menjualkn dagangannya adalah lapangan banaran. Salah satu pedagang kaki lima yang
Tugas mata kuliah :
Dasar-dasar keterampilan berbahasa
produktif
Dosen pengampu :
Santi Pratiwi, S.Pd, M.Pd
Oleh :
Asti wahyuningtyas
2101416011
Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
rombel 1
juga menjajakan dagangannya di lapangan banaran yang penulis soroti adalah pak Agus (30 tahun) dan istrinya bu Nunung (25 tahun) yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima di area kampus Unnes. Beliau menjual tela-tela, jamur krispy dan es gempol. Sebenarnya pak Agus sendiri berprofesi sebagai satpam Unnes. Tetapi, beliau mengamil usaha ini sebagai usaha tambahan yang dijalankan bersama istrinya. Dapat dikatakan bahwa menjadi pedagang kaki lima di area kampus cukup menjajikan. Hal ini sudah dibuktikan bahwa seorang yang sudah berprofesi sebagai satpampun juga memilih pekerjaan sampingan menjadi pedagang kaki lima.
Pak Agus memilih menjual tela-tela dikarenakan beliau memiliki ladang ketela. Dari ladang tersebut menghasilkan ketela yang cukup melimpah. Tetapi, belum dapat dimaksimalkan sehingga beliau memilih mengolahnya menjadi tela-tela. Disamping menjualkan tela-tela pak Agus juga memilih usaha lain yang tidak jauh beda dengan tela-tela. Beliau mencari olahan apa yang hampir sama dengan tela-tela. Akhirnya pak Agus memilih jamur crispy. Jamur crispy dengan tela-tela hanya memiliki perbedaan pada bahan dasarnya saja. Tetapi, bahan pelengkap atau tambahan yang dibutuhkan untuk mengolah jamur krispy sama dengan tela-tela. Untuk itu pak Agus memilih jamur krispy.
Dari segi lokasi yang menjadi favorit pedagang kaki lima tentunya karena berbagai alasan. Lokasi lapangan banaran sendiri terletak pada jalan utama akses menuju kampus. Tak hanya itu, jalan utama depan lapangan banaran juga jalan utama yang utama yang dilalui warga. Warga dan mahasiswa berlalu lalang melewati jalan tersebut. Ditambah disamping lapangan banaran terdapat pasar krempyeng maka membuat dearah ini sebagai jantung perekonomian masyarakat. Hal ini tentunya membawa dampak tersendiri bagi lingkungan. Lapangan banaran memang sangat stategis namun kurangnya lahan parkir berdampak pada kemacetan. Lapangan banaran menjadi daerah yang sangat rawan macet. Seharusnya pemerintah desa setempat memerhatikan hal tersebut, untuk dibangunkan sarana maupun prasarana yang lebih baik lagi untuk menghindari hal-hal seperti kemacetan.
Warung tempat pak Agus dan pedagang kaki lima yang lain juga senada. Mereka menjualkan dagangannya pada gerobak-gerobak dan beratapkan terpal. Warung model terbuka. Kelemahan dari sitem warung terbuka ini para pedagang tentunya merasa repot saat musim penghujan. Mereka harus rela kebocoran dan tak jarang warungnya menjadi becek. Belum lagi
mereka harus repot mengamankan barang-barang dagangan. Disisi lain Pedagang kaki lima juga diuntungkan lagi karena lokasi dekat dengan perumahan warga sehingga warung-warung tersebut mendapat listrik dengan cara menyalur dengan rumah warga. Hal ini juga berdampak negative. Kabel-kabel yang menyalurkan listrik dari rumah warga ke warung-warung tidak tertata dengan rapi. Selain ini persis di depan lapangan banaran juga di depan warung-warung berjualan terdapat parit kecil. Kebiasaan membuang sampah sembarangan rupanya masih menjadi adat yang susah ditinggalkan. Hal ini terbukti di dalam parit tersebut banyak sekali sampah berserakan. Baik penjual maupun pembeli sebaiknya sangat memperhatikan hal ini. Jika lingkungan yang menjadi pusat perbelanjaan bersih tentunya kita akan nyaman saat membeli kebutuhan disana.
Untuk rentan waktu berdagang sendiri, Pak Agus menjualkan dagangannya tidak pasti biasanya dari pukul 13.00 WIB – 22.00 WIB. Dari rentan waktu tersebut pak agus mampu mendapat pendapatan kotor Rp 300.000.00 setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi pedagang kaki lima mempunyai omzet yang cukup menjanjikan. Masyarakat yang tinggal di area kampus dapat memanfaatkan berbagai usaha yang sekiranya dibutuhkan. Baik untuk mahasiswa ataupun masyarakat.
Dari ulasan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa semakin bertambahnya mahasiswa di Unnes juga membuka berbagai potensi wirausaha untuk masyarakat di sekitar kampus itu sendiri. Salah satunya menjadi pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima yang semakin menjamur juga harus dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana dengan baik. Dari seluruh pihak yang berkaitan harus peduli dengan lingkungannya agar lingkungan tetap lestari. Seluruh pihak harus menjalankan peranannya dengan bijaksana. Jika semua sudah berjalan seimbang maka semua pihak akan mendapat keuntungan tersendiri serta akan terjalin suatu hubungan yang baik yang saling menguntungkan seperti simbiosis mutualisme.

contoh teks eksposisi tentang pedagang kaki lima di unnes


 Jenis Karangan: Eksposisi
 Topik : Pedagang Kaki Lima Unnes

Pedagang Kaki Lima di Kampus

Dari tahun ke tahun kesadaran akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi bagi warga semakin meningkat. Hal ini membuat setiap Unniversitas di Indonesia juga berkembang pesat. Tidak hanya unniversitas-universitas saja yang tumbuh pesat namun hal ini juga membawa dampak pada pedagang kaki lima di area kampus disetiap universitas. Semakin banyak mahasiwa yang belajar di suatu unniversitas maka akan menumbuhkan perekonomian warga di lingkungan kampus itu juga. Salah satu perkembangan perekonomian yang sangat signifikan adalah tumbuhnya pedagang kaki lima di area kampus.
Begitupun yang terjadi pada salah satu unniversitas negeri yang ada di Semarang, yaitu Unniversitas Negeri Semarang atau yang lebih sering disebut Unnes. Saat ini Unnes adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup diminati di jawa tengah. Banyaknya jumlah mahasiswa yang setiap tahun bertambah membuat pedagang kaki lima di sekitar unnes juga berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Tidak hanya kebutuhan mahasiswa pedagang kaki lima juga sangat dibutuhkan warga setempat.
Pedagang kaki lima sudah menjadi profesi yang cukup dilirik bagi warga sekitar kampus Unnes. Dari pedagang kaki lima yang menjual makanan pokok, kebutuhan pokok, bensin, sampai makanan ringan semua berjajar di area kampus Unnes. Tempat yang menjadi incaran bagi pedagang kaki lima untuk menjajakan dagangannya adalah area Lapangan Banaran. Salah
Tugas mata kuliah :
Dasar-dasar keterampilan berbahasa produktif
Dosen pengampu :
Santi Pratiwi, S.Pd, M.Pd
Oleh :
Asti wahyuningtyas
2101416011
Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia rombel 1
satu pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disana adalah pak Agus yang menjual tela-tela, jamur crispy dan es gempol bersama istrinya.
Pak Agus berusia 30 tahun ditemani istrinya ibu Nunung yang berusia 25 tahun sudah dua tahun menjalankan bisnis ini. Menurut hasil wawancara, sebenarnya pekerjaan utama pak Agus sebagai satpam. Namun beliau mencoba berdagang sebagai pekerjaan sampingan. Sebagai pedagang yang sudah berjualan selama dua tahun pak Agus sangat memahami daerah yang digunakannya untuk berdagang ini. Daerah lapangan banaran sendiri merupakan derah yang dilalui jalan utama atau akses utama mahasiswa menuju kampus. Selain itu jalan depan lapangan banaran juga menjadi akses utama warga dalam beraktivitas. Jadi, daerah lapangan banaran memang sangat strategis bagi pedagang kaki lima menjajakan dagangannya
Bermula dari banyaknya ketela yang tidak dimanfaatkan dirumahnya maka bisnis ini dimulai. Tujuan awalnya adalah memaksimalkan bahan yang ada, kemudian muncul niat menyulap ketela menjadi tela-tela dengan banyak varian rasa. Selain ketela pak Agus juga mengembangkan usahnya atau membuat varian produk lain yang hanya berbeda, pak Agus mencari produk yang perbedaanya hanya pada bahan dasarnya saja namun bahan tambahannya sama. Kemudian, pak Agus melirik usaha jamur crispy. Jamur crispy hanya memerlukan jamur sebagai bahan dasarnya. Selanjutnya bahan tambahannya sama dengan tela-tela, sehingga tidak perlu mengeluarkan modal lagi untuk mengembangkan produk ini. Untuk proses pembuatannya juga tidak jauh berbeda. perbedaannya hanya terletak pada satu proses saja. Yaitu, jika tela-tela melewati proses perebusan maka jamur crispy tidak. Berikut proses pembuatan tela-tela dan jamur crispy :
a. Ketela dipotong kecil kemudian direbus beberapa menit agar lebih lunak
b. Setelah direbus ketela dimasukkan ke dalam wadah yang berisi bumbu racikan pak Agus
c. Kemudian ketela digoreng
d. Selanjutnya ketela yang sudah masak dimasukan kedalam kotak dan diberi bumbu dengan berbagai varian rasa sesuai selera.
Sedangkan cara membuat jamur krispy adalah :
a. Jamur dipotong kecil
b. Setelah itu jamur dimasukkan ke dalam wadah yang berisi bumbu racikan pak Agus
c. Kemudian jamur digoreng
d. Selanjutnya jamur yang sudah masak dimasukan kedalam kotak dan diberi bumbu dengan berbagai varian rasa sesuai selera.
Disisi lain kekurangan yang tampak disekitar lapangan banaran adalah kurangnya lahan parkir. Kurangnya lahan parkir menyebabkan konsumen memarkirkan kendaraannya sembarangan di tepian jalan. Hal ini membuat daerah lapangan banaran sebagai daerah rawan kemacetan, dan pedagang kaki lima tersebut menyumbang sumber kemacetan yang cukup besar.
Saat ditemui di warungnya pak Agus juga menyampaikan bahwa tidak ada pemungutan liar ataupun pajak yang ditarik sebagai syarat berjualan disana. Hanya saja setiap pedagang membayar iyuran wajib kepada karang taruna setempat sebagai pihak pengelola. Pak Agus juga menyampaikan bahwa tanah yang digunakan berjualannya ini milik pemerintah desa banaran. Sehingga, jika suatu saat nanti digusur atau direlokasikan maka pak Agus akan mengikuti aturan tersebut. Karena, status pedagang kaki lima yang berjualan di area lapangan banaran sebagai peminjam tempat atau menumpang.
Pak Agus menjualkan dagangannya dalam dua buah gerobak dipayungi sebuah terpal yang membentang. Satu untuk gerobak tela-tela dan satunya lagi untuk gerobak es gempol. Dengan papan nama yang ada didepan warungnya membuat warung pak agus mudah dikenali. Di area banaran sendiri juga hanya pak agus yang berjualan tela-tela. Beliau menyatakan bahwa ia berjualan mulai pukul 13.00 WIB – 22.00 WIB. Dari rentan waktu tersebut pak agus mampu mendapat pendapatan kotor Rp 300.000.00 setiap harinya. Sama seperti pedagang pada umumnya pak Agus juga ingin membuka cabang di tempat lain. Namun pak agus sendiri belum mempunyai pandangan yang tepat untuk membuka cabang, ditambah lagi faktor modal yang cukup diperhitungkan untuk membuka cabang baru.
Saat ini menjalankan bisnis sampingan pedagang kaki lima memang menjadi incaran untuk warga yang tinggal di area kampus Unnes. Selain menambah pendapatan yang cukup menjanjikan usaha ini mudah dijalankan bahkan bisa mengajak keluarga terdekat untuk membantu. Salah satu yang menjadi contoh adalah pak Agus yang berjualan tela-tela.

Minggu, 05 Maret 2017

CONTOH teks deskripsi : deskripsi pedagang kaki lima Unnes




Ø  Jenis Karangan: Deskripsi
Ø  Topik               : Pedagang Kaki Lima Unnes


Pedagang Kaki Lima di Unnes

Saat ini pedagang kaki lima di area Unniversitas Negeri Semarang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini karena jumlah mahasiswa yang tiap tahunnya meningkat, berakibat meningkatkan juga kebutuhan-kebutuhan mahasiswa. Baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Dengan alasan inilah masyarakat setempat memanfaatkan situasi untuk mencari nafkah dengan berjualan kaki lima atau menjadi pegang kaki lima. Pedagang kaki lima sangat dibutuhkan mahasiswa juga masyarakat setempat dalam memenuhui kebutuhan hidup.
Salah satu pedangan kaki lima yang penulis wawancarai adalah pak Agus (30 tahun) bersama isterinya nunung (25 tahun). Pak agus adalah salah satu pedang kaki lima yang berjualan didepan lapangan banaran sudah dua tahun beliau berjualan disini, pengalaman dua tahun itu cukup membuat pak agus mengerti dan memahami kondisi sekitar apalagi pak agus juga warga asli banaran. Beliau berjualan tela-tela , jamur crispy dan es gempol bersama istirenya. Selain berjualan tela-tela dan es gempol pak agus juga berprofesi sebagai satpam di Unnes. Profesi pak Agus sebagai satpam ini cukup membuat pak Agus memahami karakteristik warga Unnes sendiri.
Warung pak agus bersebelahan dengan pedang kaki lima lainnya yang menjajakan dagangannya di depan lapangan banaran. Ketika saya mewawancarai mengapa memilih berjualan disini? Menutunya tempat ini sangat strategis.  Hal ini jelas terlihat karena lapangan banaran sendiri terletak di jalan utama dan jalan satu-satunya yang bisa dilalui mahasiswa dan masyarakat sekitar dalam kegiatan sehari-hari. Pak agus juga diuntungkan karena area tersebut dekat dengan kompleks perumahan warga yang membuat dirinya dan seluruh pedagang kaki lima tidak kesulitan untuk menyalur listrik sebagai sumber penerangan di warung kecilnya itu.
Tempat berdagang pak agus sendiri tepat diatas sebuah trotoar didepan lapangan banaran dan didepan warungnya terdapat parit yang digunakan sebagai tempat aliran air.  Dengan dua gerobak sederhana (satu untuk berjualan tela-tela dan satu lagi untuk berjualan es gempol), beratapkan terpal dan warung keadaan warung yang terbuka disinilah pak agus berjualan. Sudah cukup baik untuk berjualan namun didalam parit terlihat sampah yang berserakan juga pipa-pipa air yang tidak tertata rapi.
Saat ditanyai mengapa memilih berjualan tela-tela beliau bercerita dengan santai bahwa di rumahnya terdapat banyak pohon ketela yang tidak dimanfaatkan, sehingga timbul niat untuk memanfaatkan hal tersebut. Tidak banyak barang-barang yang pak agus bawa. Hanya beberapa baskom berukuran besar, kompor dan gas, serta alat penggorengan dan yang pasti beberapa alat pendukung lainnya. Menurut pak agus berjualan disini memang strategis tapi juga memiliki kelemahan. Kelemahan itu salah satunya adalah lahan parker tidak ada. Hal ini jelas terlihat karena didepan warung pak agus langsung jalan raya, dan pembeli yang membeli dagangannya maupun pembeli lain yang membeli dagangan lain selain pak agus harus memarkirkan motornya di pinggir jalan di depan deretan  warung-warung  pedagang kaki lima. Hal ini tentu membuat jalanan di area itu rawan macet mengingat tidak hanya satu dua pedang yang berjualan namun cukup banyak.
Saat ditanyai “bagaimana jika suatu saat nanti bapak digusur atau dipindahkan ketempat lain apakah bapak setuju?” beliau menjawab “tentu saya setuju mbak karena tanah ini memang milik pemerintah bukan milik kami” jawabnya dengan senyuman dan sangat bijaksana.
Lalu apakah berjualan disini dipungut biaya atau ada semacam pungutan liar? Pak Agus menjawab dengan tegas tidak. Tidak ada pungutan liar atau pajak apapun disini, namun ada semacam kas wajib yang ditarik oleh karang taruna karena tempat ini memang dikelola oleh pemerintah desa tegasnya.
Sebagai seorang pedagang kaki lima tentunya pak agus memiliki harapan dan doa yang sama seperti pedagang kaki lima umumnya. Yaitu memiliki cabang ditempat lain. Tapi hal ini belum terealisasikan karna kendala modal juga belum memiliki pandangan dimana cabang tersebut akan dibangun.
Bersama istrinya pak agus menjajakan dagangannya dari pukul 13.00 WIB – 22.00 WIB  dan setiap harinya pak agus mendapat penghasilan kotor dari dagangannya sebesar Rp 300.000,00. Saat tiba dipenghujung wawancara pak Agus menyampaikan harapannya bahwa satu-satunya harapannya adalah dapat berjualan disini tanpa digusur serta kalau bisa mungkin dibagunkan lahan parker agar tidak mengganggu., Jawabnya dengan santun.

Legenda Tangkuban Perahu

  Nama : Nayla Putri Yuantika Humaira Azalia Sasi Ramadhanesya Gunung Tangkuban Perahu Dahulu kala ada seorang raja yang bernama Sumbing...